Klik disini Berbagi ke Facebook

Shalat dari Pelbagai Aspek

Tuesday 13 September 2011 5:26 am



ali_nurdinilah

Ali Nurdinillah
Majelis Ta’lim Hidayatul Mukhlisin Nanggewer

Assalamualaikum Wr Wb

Hadirin jemaah Jum’at yang berbahagia,Shalat adalah suatu ibadah yang diwajibkan atas tiap-tiap orang Islam dengan syarat-2 dan rukun tertentu, sekurang-kurangnya lima waktu setiap harinya. Dalam melakukan shalat, 3 (tiga) organ tubuh harus aktif yaitu HATI/PIKIRAN, LIDAH DAN BADAN. Lidah mengucapkan pengakuan atas keagungan Allah, pikiran memahami ucapan hati menghayati dan sikap badan mendemonstrasikan perasaan itu. Mari kita analisa shalat dari beberapa aspek, sebab dari analisa itu kita akan merasakan bahwa shalat amat penting bagi orang yang ingin menjadi manusia yang baik atau manusia seutuhnya.

Shalat dan aspek HUKUM
Hukum adalah peraturan yang harus ditaati dan dipatuhi. Shalat dalam aspek ini adalah suatu kewajiban yang harus dikerjakan tidak boleh ditinggalkan. Didalam Al Qur’an Allah SWT berulang-ulang memerintahkan untuk mengerjakan shalat dan mengancam kepada orang yang melalaikan dan meninggalkan shalat.

Shalat dan aspek MORAL
Moral adalah perasaan senang melakukan perbuatan baik, adil, wajar dsb, benci kepada perbuatan jahat dzolim dsb. Shalat ialah perintah dari Yang Maha Pengasih yang memberi hidup dan kehidupan kepada manusia dan alam seluruhnya. Apa yang ada pada diri manusia dari yang halus sampai yang kasar `adalah ciptaan Allah yang diberikannya secara Cuma-2 kepada manusia. Denyut jantung yang menyemprotkan darah keseluruh jaringan tubuh, gerak paru-2 yang menghisap dan menghembuskan udara kedalam dan keluar tubuh adalah nikmat Allah yang tifdak dapat dinilai dengan apa saja dari perbuatan manusia. Pemahaman dan pengenalan yang demikian akan merangsang moral untuk bersikap tunduk dan taat kepada aturan dan perintah Allah. Seorang moralis akan merasa senang dan bahagia bila ia melakukan shalat sebagai rasa syukur atas nikmat yang diterimanya. Dalam firman Allah `SWT di Surat Al Baqarah ayat 28 ” Kenapa kalian masih ingkar kepada Allah. Tadinya kalian adalah benda mati/tanah, kemudian Allah hidupkan kalian, kemudian Allah matikan kalian kemudian dihidupkan kembali kalian, kemudian hanya kepada Allah kalian akan dikembalikan”

Shalat dan aspek rohani
Tiap-2 melakukan shalat manusia berhubungan dengan Allah secara rohani, dengan kontak bathin yang berlangsung berkesinambungan 5 kali setiap hari, akan menumbuhkan ketentraman jiwa dan ketentraman bathin, hilang rasa cemas, gelisah dan rasa pesimis dalam hati. Orang yang shalat dengan khusu akan merasa bahwa dirinya dekat dengan llah yang Maha kuasa, maha pengasih dan maha penyayang yang senantiasa memberi perlindungan dan bimbingan dalam hidupnya, hatinya tentram karena ia pasrah diri kepada Allah. Inilah suatu nikmat hidup yang amat tinggi nilainya, lebih daripada harta benda dan kekuasaan yang dimiliki sebagaimana firman Allah dalam surat Al Mu’minun 1-2 :” Sungguh berbahagia orang-2 yang beriman yaitu orang-2 yang khusu’ dalam shalatnya “. Orang yang selalu demam shalat, memiliki jiwa optimis menghadapi kehidupan karena ia yakin bahwa Allah selalu memberi pertolongan untuk dirinya. Ia tawaqal kepada Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana

Shalat dan Aspek Jasmani
Shalat dilakukan dengan gerakan anggota badan, tegak lurus, ruku sujud duduk bersimpuh dsb. Semua gerakan itu bernilai positif bagi kesehatan badan. Dengan shalat orang sudah melakukan latihan gerak badan/olah raga yang minimal dalam hidupnya. Sebelum shalat orang lebih dulu membersihkan tubuhnya dari najis dan kotoran, demikain juga dengan gerakan badan dalam shalat ia menyehatkan jantungnya dan dengan doa-2 ia mensucikan rohaninya dari dosa. Dengan demikian nyatalah shalat itu berfungsi pula mensucikan jasmani dan rohani serta menyehatkan tubuh dan mental.

Shalat dan aspek tingkah laku
Allah berfirman dalam surat Ankabut 45 :” Sesungguhnya shalat mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar ”
Dalam shalat kita menghadapkan hati kepada Allah, berdoa dan memohon agar diampuni segala dosa yang telah dilakukan, mohon dituntun kejalan yang benar. Bila permohonan itu diucapkan dengan sungguh-2, secaralangsung dihadapan Allah tentulah sipemohon akan selalu mawas diri dalam kehidupannya. Perbuatan dan tingkah lakunya tidak akan bertolak belakang dengan doa dan permohonan yang diucapkan dalam shalatnya. Ia akan berusaha sungguh-2 agar tidak melanggar larangan dan tidak melalaikan suruhanNya. Dalam shalat diucapkan suatu permohonan bahwa segala ibadah yang dilakukan, bahkan aktifitas dalam kehidupan sehari-2 adalah karena Allah dan untuk Allah. Pernyataan tersebut menuntut agar berlaku jujur dan ikhlas dalam semua perbuatan dan tingkah laku, berbuat baik tanpa pamrih duniawi, hanya ridho Allah yang diharapkan.

Shalat dan aspek social
Rasulullah bersabda shalat berjamaah itu lebih tinggi nilainya dibanding shalat sendiri sebanding 27 drajat. Shalat berjamaah dilakukan bersama dengan keluarga, tetangga rekan kerja dan lainnya. Dibawah pimpinan seorang imam, semua anggota Jemaah berdrajat sama tidak ada perbedaan satu dengan yang lain, baik dari segi status social, ekonomi, pangkat suku dan perbedaan lainnya. Disamping melakukan ibadah shalat secara berjamaah, para anggota melakukan hubungan komunikasi dan silaturahmi antar sesame, baik sebelum atau sesudah shalat. Dengan demikian maka nyata shalat berjamaah itu disamping mendekatkan diri dengan Allah, juga menjalin hubungan mesra dengan sesame manusia, dismaping itu juga shalat berjamaah menumbuhkan rasa persamaan, menghilangkan rasa rendah diri dan rasa sombong yang tidak pantas dimiliki seseorang serta tidak disukai oleh Allah dan rasulNya.

Shalat dan aspek hubungan dengan Allah
Tunduk dan taat kepada Allah memerlukan hubungan yang berlangsung terus menerus antara manusia dengan Allah yang harus ditaatinya. Maka ibadah shalat adalah salah satu cara yang memenuhi maksud tersebut. Shalat adalah satu-satunya ibadah yang harus dilakukan oleh tiap-2 pribadi muslim 5 kali setiap hari. Dengan demikian hubungan manusia dengan Allah senantiasa terjalin tanpa putus atau terpisah.

Hubungan yang demikian akan mengokohkan rasa taat dan setia kepada segala aturan dan perintahNya. Selagi orang sadardan ingat kepada Allah, ia tidak akan melakukan sesuatu yang dilarangNya, sebaliknya bila orang lupa kepada Allah ia akan mudah terjerumus kelembah dosa. Inilah makna dari sabda Nabi ” shalat itu tiang agama “.

Dari uraian tadi Nampak jelas bahwa shalat adalah ibadah yang wajib dilakukan oleh tiap tiap muslim, berfungsi sebagai metode untuk meningkatkan nilai hidup mencapai derajat manusia seutuhnya.

Demikianlah semoga bermanfaat sebagai bekal kehidupan kita sehar-hari.

Wassalamualaikum wr wb.

0 Comments Leave a comment

 
 
Klik disini Berbagi ke Facebook

Silaturahim

Friday 9 September 2011 2:05 pm



baenuri

BAENURI S.Pd
Madrasah Aliyah Negeri Cibinong Bogor (085813621959)

Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hadirin Kaum Muslimin rahimakumullahSegala puji bagi Allah yang maha pengasih, yang maha penyayang, yang telah mengutus rasul pilihan Nabi Besar Muhammad SAW untuk seluruh alam, rasul yang amat mencintai manusia dan memerintahkan mereka untuk saling mencintai. Shalawat dan salam semoga tercurah kepadanya, kepada para sahabatnya dan kepada kita semua.

Marilah kita bertakwa kepada Allah, karena siapa saja yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan memeliharanya. Siapa saja yang pasrah kepada Allah, maka Allah pasti akan mencukupinya. Siapa saja yang menghutangkan hartanya kepada Allah, maka Allah akan membalasnya. Siapa yang bersyukur kepada Allah, maka Allah akan menambah nikmat kepadanya. Takwa itu hendaknya terkonsentrasi dalam hidup, pedoman dalam amal dan kejernihan hati, karena sesungguhnya tidak ada amal bagi orang yang tidak memiliki niat. Tidak ada pahala bagi orang yang tidak memiliki keikhlasan, tidak ada harta bagi orang yang tidak memiliki sifat lemah ,ebut dan tidak ada sesuatu yang baru bagi orang yang tidak memiliki akhlak.

Hadirin kaum muslimin r.k.

Kita adalah manusia, meskipun sebagai insan yang bertakwa terhadap Allah SWT, kita tidaklah luput dari berbuat salah, bahkan realitasnya kesalahan kita sangat berlimpah baik terhadap diri sendiri, terhadap orang lain ataupun terhadap Allah Sang Pencipta Alam. Sesungguhnya seluruh manusia pastilah berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertaubat, sebagaimana yang telkah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Kalaulah bukan karena kemurahan Allah yang Maha Penyayang dan ampunannya terhadap dosa-dosa kita, pastilah kita semua berada dalam lautan dosa dan balasan yang setimpalhanyalah kekal dalam neraka jahanam. Oleh karena itu Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita damai, toleran dan saling memaafkan serta menyuruh kita untuk saling memaafkan segala kesalahan kita sehingga Allah yang Maha Luhur mengampuni segala dosa dan kesalahan kita. Hendaknya kita terbuka hati untuk menerima permohonan maaf meskipun dipaksakan, menerima segala bukti meskipun lemah, menerima segala situasi meskipun hasil rekayasa. Inilah factor terpenting untuk melestarikan cinta dan kasih saying ketrentaman dan kedamaian diantara manusia, membasmi perasaan benci, permusuhan dan perselisihan diantara kita, serta menciptakan ketenangan kebahagiaan dan keharmonisan.

Hadirin kaum muslimin r.k.

Allah SWT sangat mencintai orang yang berhati suci dan jernih, pemaaf dan lapang dada. Kepada orang-2 seperti ini Allah menjanjikan ampunan dari segala dosa dan kesalahannya, menggantikan keburukannya dengan kebaikan, serta memasukkannya kedalam firdaus rahmat dan keridhaanNya. Sebaliknya orang-2 yang dengki lagi jahat, enggan memaafksan kesalahan dan tidak lapang dana, mereka akan jauh dari rakhmat Allah, jauh dari ampunanNya, jauh dari kasih sayangNya dan jauh dari sorgaNya. Suatu hari salah seorang sahabat mendatangi Rasulullah SAW, dia menanyakan tentang manusia yang paling banyak keburukannya. Beliau menjawab : “Mereka adalah orang-orang yang tidak menerima kesalahan, tidak menerima permohonan maaf dan tidak memaafkan kesalahan orang lain. Adapun orang yang paling baik adalah mereka yang paling banyak keutamaannya, paling dekat kepada Allah dan paling mampu menahan amarahnya, dikala dia marah, sebagaimana firman Allah SWT mereka itu adalah orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang, Allah menyukai orang-2 yang berbuat kebaikan”

Hadirin kaum muslimin r.k.

Salah satu cara yang diperintahkan untuk menjalin kasih saying diantara kita adalah menumbuh kembangkan silaturahmi diantara kita. Silah artinya menghimpun sesuatu yang tidak bersatu, rahmi adalah kasih saying sebagaimana ungkapan berikut :
“Silaturahmi bukannya membalas kunjungan, akan tetapi menyambung apa yang telah terputus”
Hadirin yang berbahagia, ada beberapa hal yang harus ada pada diri kita agar silaturahmi terpelihara dalam diri kita :
1. Kita harus siap menerima perilaku yang sesuai maupun tidak sesuai dengan selera kita. Siap menerima kelebihan orang lain dan menerima kekurangan diri kita.
2. Jangan sekali-kali kita memfokuskan kesalahan orang lain, kecuali untuk diambil hikmahnya
3. Kita harus berani dan mengakui kelebihan orang lain dengan mengungkapkan kebaikan atau kelebihan tersebut.
4. Kita harus berhenti mengingat-ingat kebaikan yang pernah kita berikan kepada orang lain.

Hadirin kaum muslimin r.k.

Semoga ini semua dapat menjadi pendorong aktifitas kita dalam mengabdikan diri kehadirat Illahi Rabbi.

Wassalamualaikum wr wb

0 Comments Leave a comment

 
 
Klik disini Berbagi ke Facebook

Pentingnya Nasehat

Sunday 22 May 2011 5:24 am



asnan_purba1

H. Asnan Purba LC
Program Pasca Sarjana Univ Ibnu Khaldun Bogor

Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Mukaddimah

Kehidupan manusia hendaknya selalu berjalan seimbang, dengan kata lain hubungan vertikal atau yang di sebut dengan hablum minallah, dan hubungan horizontal atau yang di sebut dengan hablum minannas, berjalan seiring dan seirama. Sehingga dengan begitu kehidupan manusia menjadi lebih baik dan teratur. Dalam menjalakan kehidupan ini tentunymanusia mengalami kekhilafan da kealpaan, perlu adanya nasehat dan peringatan agar jalur kehidupan yang ditempuhnya benar-benar sesuai dengan perintah Allah swt dan rasul-Nya.

وَالْعَصْرِ . اِنَّ اْلاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ . اِلاَّالَّذِيْنَ آمَنُوْا

وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ .(العصر : 1-3

Artinya : “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-Ashr : 1-3)

Ayat di atas menjelaskan tentang pentingnya nasehat antar sesama, sehingga setiap muslim dapat terselamatkan dari perbuatan yang di larang Allah swt dan rasulnya. Nasehat adalah bentuk peringatan dan anjuran kepada orang lain, dengan kata lain bagaimana seseorang mengajak orang lain seperti ia mengajak dirinya sendiri . rasulullah saw bersabda :

عَنْ اَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْمِ بْنِ اَوْسِ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّ النَّبِيَّ

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ, قُلْنِا لِمَنْ ؟ قَالَ : ِللهِ وَلِكِتَابِهِ

وَلِرَسُوْلِهِ وَِلاَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ. (رواه مسلم

Artinya : “Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad Dary r.a. bahwasanya Nabi saw bersabda : “Agama itu adalah nasehat, para sahabat brtanya ; untuk siapa wahai Rasulullah? Beliau menjawab : “bagi Allah swt, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpin umat (ulama dan umara) dan umat islam secara keseluruhan. (HR. Muslim)

Hadits di atas mejelaskan pentingnya nasehat, karena ia merupakan salah satu pilar kehidupan beragama. Setidaknya hadits di atas menjelaskan ada 5 (lima) kategori yang berkaitan dengan mendapatkan dan memberikan nasehat. Pertama ; nasehat kepada Allah swt yang bermaksud kita dituntut agar selalu ikhlas dalam menjalankan ibadah dengan mengrjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Kedua ; nasehat kepada kitab-Nya yang bermaksud hendaknya kita meyakini sekaligus menjalankan apa-apa yang tertuang di dalam kitab suci Al-Qur’an. Adapun terhadap kitab-kitab suci lainnya, selama perintah itu juga ditegaskan di dalam Al-Qur’an kita juga hendaknya meyakini dan menjalankannya dengan sepenuh hati. Ketiga ; nasehat kepada Rasu-Nya yaitu kepada Rasulullah saw yang bermaksud kita harus selalu menjadikan beliau sebagai suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari, dengan cara banyak belajar dan membaca tentang sirah (bigorafi) kehidupan beliau. Keempat ; nasehat kepada para pemimpin umat (ulama dan umara) yang bermaksud kita harus selalu bertanya kepada para ulama bagaimana menjalankan syari’at dengan baik dan benar serta selalu menasehati para ulama dengan memperingatkan apabila keliru dan lalai dalam membina umat. Kelima ; nasehat kepada seluruh umat islam yang bermaksud kita dituntut untuk selalu peka dalam memberikan nasehat kepada sesama muslim agar mereka tidak tergelincir kedalam kesesatan dan kekeliruan.hubungan agama jauh lebih dekat dari

Hubungan saudara, karena ia dapat mengantarkan saudara seagama menuju surga yang di janjikan oleh Allah swt dan rasul-Nya. Sehingga meskipun seorang muslim berada jauh si belahan dunia lain, ketika mereka teraniaya maka semua umat muslim sedunia akan merasakan hal yang serupa, hal ini didasarkan kepada sabda Rasulullah saw yang berbunyi :

عَنْ سَالِمٍ عَنْ اَبِيْهِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

قَالَ : اَلْمُسْلِمُ اَخُو الْمُسْلِمِ لاَيَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ مَنْ

كَانَ فِيْ حَاجَةِ اَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِيْ حَاجَتِهِ وَمَنْ

فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ

كُرْبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا

سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقَيَامَةِ. (رواه مسلم

Artinya : “Dari Salim dari ayahnya, bahwasanya Rasulullah saw bersabda : “Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak ada yang boleh menzhalimnya atau menundukkannya, barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah swt akan membantu setiap kebutuhannya, barang siapa yang membantu saudaranya dari marabahaya maka Allah swt akan membantunya selamat dari segala kesulitan dan marabahaya pada hari kiamat, barang siapa yang menutup aib saudaranya sesama muslim maka Allah akan menutup semua aibnya pada hari kiamat”. (HR. Muslim).

Tetapi perlu di garis bawahi memberikan nasehat kepada sesama muslim, hendaknya tidak mempermalukannya atau merendahkan martabatnya. Akan lebih baik jka nasehat tersebut disampaikan dengan rahasia antara diri kita sebagai pemberi nasehat dengan orang tersebut, sehingga ia akan lebih memberikan pengaruh positif yang besar terhadap perubahan diri orang tersebut.

Mudah-mudahan dengan penjelasan ini dapat menyadarkan diri kita tentang pentingnya nasehat agar kehidupan seorang Muslim menjadi lebih baik dan terarah, amin…..Wallahu A’lam.

0 Comments Leave a comment

 
 
Klik disini Berbagi ke Facebook

Kontes Sticker Islami

Monday 9 May 2011 12:33 pm



stiker_sholat

stiker_riba

stiker_iman1

Sticker ini diikutsertakan dalam Kontes Sticker Islami

2 Comments Leave a comment